Jalan Dakwah : Lebih Tua Dari Usiaku

Bismillahirahmanirahim

Kesuntukan yang melanda dikala waktu menunggu, padahal sudah beberapa kali memotivasikan diri dengan tips-tips agar tetap menyempatkan diri membaca dimanapun diri ini berada. Kata-katanya begini, “Manfaatkan waktu menunggumu dengan membaca” Nah, mumpung kemarin dilanda menunggu akhirnya saya berjodoh Continue reading “Jalan Dakwah : Lebih Tua Dari Usiaku”

Advertisements

Pendidikan Guru Keluarga : Menyiapkan Generasi Pejuang

Bismillahirahmanirahim

Akhir-akhir ini saya bersama teman saya menyibukkan diri untuk mengikuti informasi kajian terkait parenting. Kemarin lalu teman saya memposting beberapa poster mulai dari Fiqih Munakhahat hingga Kiat-Kiat Menjadi Guru Keluarga. Lalu ada yang memberikan respon terkait hal itu, begini responnya “Wah, udah kebelet aja nih” ada lagi “Ayok Ukh disegerakan, Ane tunggu undangannya” dan satu lagi yang lebih mainstream “Afwan Ukh, Ane mau mengajak Continue reading “Pendidikan Guru Keluarga : Menyiapkan Generasi Pejuang”

Puisi : Setiap Hari, Ada Untukmu

Desember kemarin, beberapa kawan ribut dan ramai di pelbagai sosmed mengupload foto ibunda tersayang sembari diikuti kata-kata ‘Happy Mother’ Day’, aku kebingungan di landa kerinduan kepada mama terkait foto2 kawan yg mulai memenuhi sosmed. Seketika ada dorangan ingin memplagiat semua itu, namun ku pikir kembali, apakah hanya hari ini saja, aku berpura-pura baik kepada ibu hingga harus memamerkan kemesraan palsu ku dengan ibu tercinta? Continue reading “Puisi : Setiap Hari, Ada Untukmu”

P2KK 2018: The Survivor of The 19th

Bismillah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Bayang bayang ku ketika p2kk berjalan menjauh di belakang

Seminggu telah berlalu dan rasanya begitu singkat bagi sosok manusia yg tak ada puasnya. Yup, di akhir penghujung acara tersebut banyak dari bayang bayang p2kk berkelus kesah “Hiks, kok udah mau pulang aja?” “Aku bakal kangen” “Kapan kita ketemu lagi ya?” dan berbagai macam untai untai kata yg keluar dari bibir-bibir para sang bayang. Continue reading “P2KK 2018: The Survivor of The 19th”

BUDAK BUDAK GADGET

Zaman sekarang bocah berusia 5 tahun telah familiar dengan istilah istilah slank yang berbau teknologi. Bahkan ngalahin tante tante yang baru nikah. Let say miris. Hal tersebut bukan lagi biasa. Namun luar binasa hingga dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Menjadi mahasiswa tak bisa lepas dalam bersosialisasi, apalagi mahasiswa mahasiswa yang aktif dalam berbagai macam organisasi. Tentu banyak hal yang berbau sosial. Namun, bagaimana jika bersosialisasinya melalui sebuah alat yakni

Continue reading “BUDAK BUDAK GADGET”

PESMABA UMM: KETIKA STAND UP KOMEDI LEBIH PENTING KETIMBANG WUSTHA

“Peliharalah semua shalat(mu), dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. Al Baqarah : 238)

Dua hari telah berlalu, Pesmaba pun telah melepaskan balon pembukaan senin kemarin di Hellypad UMM. Dimana yang sebelum ‘dua hari’ tersebut sudah tercatat dalam sejarah para maba 2017 mengenai kegiatan Gebyar Pesmaba UMM 2017. Serangkai acara telah dilaksanakan dalam menyambut acara yg gebyar tersebut, mulai dari tiap tiap fakultas, jurusan, hingga para maba sendiri menyambutnya dengan penuh semangat. Dan kata Alhamdulillah lah yg mengakhiri semuanya karna terjalan dengan baik sebelum hari H PESMABA datang.

Namun disayangkan, semua itu rusak dan mematahkan hati para maba -bukan pihak maba saja, tapi banyak dari pihak pihak lain yg merasa kecewa dan bersedih hati. Ketika ceramah rektor lebih penting dari pada dhuzur.

Continue reading “PESMABA UMM: KETIKA STAND UP KOMEDI LEBIH PENTING KETIMBANG WUSTHA”

Akuntan : Mimpi Seorang Gadis Berusia 10 Tahun

Aku jadi teringat speach Jessica dalam Twilight:Eclipse Movie begini katanya :

“When I was ten, we have asked again and our answers were rock star, cowboy, or in my case a gold medalist”

Tapi berbeda dalam kasusku aku ingin menjadi orang berduit yang cantik dan Ayah sendiri pernah menceritakan tentang sesosok yang dari dulu kupuja gadis cantik yang berdiri di teller bank. Ok, alasan ini agak klise dan sepertinya lebih kearah antimainstream, bagi anak sepolos 10 tahun yang dipikiran mereka hanya bermain, aku malah memikirkan duit dan kecantikan diri. Maka takdirku pun ditentukan oleh Ayah ‘Nak kamu cocok jadi akuntan!’

Continue reading “Akuntan : Mimpi Seorang Gadis Berusia 10 Tahun”

Kota Ambon : “Tampa Beta Putus Pusa E”

Sejak mengikuti kegiatan di luar kota Ambon, kala itu masih duduk dibangku kelas dua. Sering saya ditimpahkan beberapa pertanyaan yang agak awkward untuk ditanya.

“Ambon itu mana?”

“Ambon itu Sulawesi bukan sih?”

“Oh, ambon itu di papua kan?”

“Kayaknya ambon itu di sumatera” Jleb! Pertanyaan pertanyaan inilah yang sering ku timpahi dengan pertanyaan balik “Mas mbak dikelas nilai geografinya berapa ya?” Continue reading “Kota Ambon : “Tampa Beta Putus Pusa E””

NOW YOU SEE IT : A BOOK AND A GADGET

A book and a gadget : Nowdays there is a thing that makes me sad, when the men said easily “I do not like reading” O Allah! Why must that sentence bear in this era which have full power and extremely modern?

After analyzing that case i found one cause which is really unfortunately, the thing that why could stuck the young men in this world feel difficult to read –or probably they truly could not read? Is a gadget.

Then, what is exactly gadget mean? From granny’s question to her grandchild. Well, I even couldn’t explain more detail to her about gadget, which to the point is gadget destroys the books. Isn’t?

Continue reading “NOW YOU SEE IT : A BOOK AND A GADGET”

Kicauan Manyar : “Home”

    Diam, suara suara kendaraan bergema satu persatu dari bawah. Angin meniup masuk kejendela bilikku. Cahaya putih bersinar menerangi sebuah buku yg terbuka mantap di atas dipan. Mata ini sigap ke kiri nan gesit dan simak dalam memerhatikan huruf, kata serta kalimat yg tertera diatasnya. Khusyu. Mendadak saja Continue reading “Kicauan Manyar : “Home””

Kajian : Wanita Wanita Yang Dirindukan Syurga

Bismillahirahmanirahiim..

Belakangan banyak para akhwat yang berkata “Menjadi wanita selalu diperlakukan tidak adil” hal tersebut sudah tak bisa dipungkiri lagi dikalangan masyarakat. Banyak dari mereka yang memprotes atas pembagian warisan yang tak seimbang dengan saudara laki-lakinya hingga masalah poligami Continue reading “Kajian : Wanita Wanita Yang Dirindukan Syurga”

Suatu ke-organisasi-an..

Beberapa kawan mengatakan ‘Kapan menulis lagi?’ atau dibenak mereka ialah ‘Aisyah masih dalam proses mencutikan diri dalam menulis’ Sayangnya, semua itu ku bantah dalam hati kecil dengan kata kata ‘wong kemarin saja saya baru selesai nulis status di story sosial media kok’ sambil nyinyir pahit. Hhe..

Beberapa belakangan ini, masih disibukkan dengan urusan kuliah juga ke-organisasi-an. Perihal organisasi, sempat kemarin sore saya mengikuti salah satu agenda yakni Continue reading “Suatu ke-organisasi-an..”

Repost : Demam Fashion Hijrah

[DEMAM FASHION HIJRAH]

Oleh: Sa’adia Meilani

Judul ini sepertinya mewakili resah dihati saya selama beberapa bulan terakhir. Mengamati bagaimana kini seorang perempuan pada umumnya dan muslimah pada khususnya menjadi target kapitalisasi fashion dunia dengan berjuta produknya. Outer, upper, dress, bomber,  hijab, gamis dan lain sebagainya. Coba saja kita lihat, ada berapa ribu online shop di instagram dan semuanya laku, semua memiliki pasar dan pembelinya masing-masing. Mungkin memang jika dilihat, penjualnya adalah seorang muslim. Namun darimana bahan baku permbuatan produk itu datang? Ia diangkut oleh kapal yang berasal dari negeri-negeri fashion yang sudah meraksasa seperti India, China, dan tentu saja Amerika. 
Dalam film “True Cost” (2015) yang disutradarai oleh Andrew Morgan, seorang sutradara dengan fokus produksi film genre telling stories for a better tomorrow. Dari film tersebut jelas nampak bagaimana kapitalisasi fashion bermula dan berkembang hingga era milenial ini. Bagaimana wanita menjadi target operasi industri fashion raksasa dunia. Bahkan menurut artikel yang diterbitkan McKinsey Company (2016) fashion menduduki tujuh ekonomi terbesar dengan index fashion mencapai 2.4 Triliun US Dollar atau setara dengan 32.400 Triliun Rupiah.
Kini jika kita membicarakan tentang fashion muslimah ia menjadi seperti pisau bermata ganda. Satu sisi dapat merobek secara intrinsik konsumen, sisi lain merobek secara ekstrinsik lingkungan si konsumen. Saya mengikuti isu perkembangan fashion sejak saya menduduki bangku SMA, bahkan saya mengaku menjadi korban fashion saat itu. Hijabers Community, sebuah komunitas yang lahir di Jakarta saat itu menjadi inspirasi awal saya dalam berfashion muslimah namun tetap trendy meskipun saat itu saya mengesampingkan nilai “syar’i”. Setelah lulus dari SMA saya tidak begitu tertarik lagi untuk mengikuti gaya hidup seorang stylist atau korban fashion karena memang selain ia mengeluarkan biaya yang besar, ia juga mengikis sudut pandang humanis saya. Seperti mudah berpandangan bahwa penampilan seseorang itu mencerminkan apapun. 
Sudah lima tahun sejak 2012, awal saya mengenal munculnya trend fashion muslimah di Indonesia. Faktanya hingga saat ini ia mewabah dan menjadi life style mayoritas muslimah mulai ibu-ibu hingga anak-anak. Mulai dari hijab yang hanya selembar melilit leher, hingga hijab besar menjuntai. Kini setiap ada fashion store, bazar pakaian menjelang hari raya, dan online shop seluruh website tidak lepas dengan produk penjualan jilbab syar’i. Banyak ibu-ibu yang biasanya keluar rumah tidak berjilbab, saat diundang di acara televisi atas nama majelis taklim mereka kompak senada menggunakan pakaian syar’i. Mulai dari bahan tebal menjuntai, hingga tipis mengiris semua tersedia di lapak fashion muslimah.
Dengan dalil ayat suci yang mereka perjual-belikan sebagai cover daya tarik pembelian busana muslimah, menjadi hal yang lumrah saat ini. Tidak ada yang salah dengan ayat sucinya, namun ada yang salah dengan orientasi dari makna ayat suci tersebut. Seseorang menjadi sangat mudah menilai apa itu “hijrah” hanya dari bagaimana seseorang/sekelompok orang itu merubah gaya berpakaiannya. Hanya dari sisi itu saja. Diiringi oleh menjamurnya kajian-kajian Hijrah anak muda  di beberapa masjid/Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang dipandang menjadi trend anak muda saat ini. Kajian itu tidak lebih dari hanya sekedar memenuhi ke’keren’an timeline si pendengar. Lagi-lagi agar dinilai menjadi sesorang yang telah ber-Hijrah. Didalamnya seringkali minim proses intelektual dalam orientasi kemasyarakatan Indonesia yang majemuk ini. Contohnya, seseorang akan dinilai sholih/sholihah ketika ia sudah mendengarkan tausiyah dari Ust. Hanan Attaki atau Ust. Khalid Bassalamah misalkan. Berhenti disitu anggapan publik.
Belum lagi ditambah aroma-aroma topik hijrah karena “asmara” yang semakin membuat linu telinga. Hijrah untuk menjadi lebih baik, agar mendapat jodoh yang baik pula. Si wanita akan merubah penampilannya dengan berjilbab syari’i bahkan bercadar dengan asumsi agar mendapatkan jodoh yang hafidz, rajin sholat di masjid, berjenggot dan lain sebagianya. Untuk kaum adam maka akan semakin melirik perempuan yang bercadar untuk dinikahi misalnya. Sekali lagi bukan salah kata “hijrah”, namun bagaimana bisa pendeknya pemaknaan seseorang dengan kata tersebut menjadi landasan berfikir mayoritas pemuda muslim saat ini. Padahal hijrah ini sungguh mulia dan berat, ia hanya akan dimengerti maknanya jika ia meninggalkan bagaimana pendapat, penilaian orang lain tentang ‘Dunia’. Hijrah adalah tentang “Bagaimana kita menerapkan seluruh nilai-nilai Islam dalam segala detik dan sendi kehidupan kita”, benar-benar karena Nya. Bukan dengan topeng lillahita’ala.

Lalu, sudah sampai mana hijrah kita?

Malang, 9 Oktober 2017

Repost