BUDAK BUDAK GADGET

Zaman sekarang bocah berusia 5 tahun telah familiar dengan istilah istilah slank yang berbau teknologi. Bahkan ngalahin tante tante yang baru nikah. Let say miris. Hal tersebut bukan lagi biasa. Namun luar binasa hingga dapat mempengaruhi kehidupan seseorang.

Menjadi mahasiswa tak bisa lepas dalam bersosialisasi, apalagi mahasiswa mahasiswa yang aktif dalam berbagai macam organisasi. Tentu banyak hal yang berbau sosial. Namun, bagaimana jika bersosialisasinya melalui sebuah alat yakni

Continue reading “BUDAK BUDAK GADGET”

Advertisements

PESMABA UMM: KETIKA STAND UP KOMEDI LEBIH PENTING KETIMBANG WUSTHA

“Peliharalah semua shalat(mu), dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. Al Baqarah : 238)

Dua hari telah berlalu, Pesmaba pun telah melepaskan balon pembukaan senin kemarin di Hellypad UMM. Dimana yang sebelum ‘dua hari’ tersebut sudah tercatat dalam sejarah para maba 2017 mengenai kegiatan Gebyar Pesmaba UMM 2017. Serangkai acara telah dilaksanakan dalam menyambut acara yg gebyar tersebut, mulai dari tiap tiap fakultas, jurusan, hingga para maba sendiri menyambutnya dengan penuh semangat. Dan kata Alhamdulillah lah yg mengakhiri semuanya karna terjalan dengan baik sebelum hari H PESMABA datang.

Namun disayangkan, semua itu rusak dan mematahkan hati para maba -bukan pihak maba saja, tapi banyak dari pihak pihak lain yg merasa kecewa dan bersedih hati. Ketika ceramah rektor lebih penting dari pada dhuzur.

Continue reading “PESMABA UMM: KETIKA STAND UP KOMEDI LEBIH PENTING KETIMBANG WUSTHA”

Akuntan : Mimpi Seorang Gadis Berusia 10 Tahun

Aku jadi teringat speach Jessica dalam Twilight:Eclipse Movie begini katanya :

“When I was ten, we have asked again and our answers were rock star, cowboy, or in my case a gold medalist”

Tapi berbeda dalam kasusku aku ingin menjadi orang berduit yang cantik dan Ayah sendiri pernah menceritakan tentang sesosok yang dari dulu kupuja gadis cantik yang berdiri di teller bank. Ok, alasan ini agak klise dan sepertinya lebih kearah antimainstream, bagi anak sepolos 10 tahun yang dipikiran mereka hanya bermain, aku malah memikirkan duit dan kecantikan diri. Maka takdirku pun ditentukan oleh Ayah ‘Nak kamu cocok jadi akuntan!’

Continue reading “Akuntan : Mimpi Seorang Gadis Berusia 10 Tahun”

Kota Ambon : “Tampa Beta Putus Pusa E”

Sejak mengikuti kegiatan di luar kota Ambon, kala itu masih duduk dibangku kelas dua. Sering saya ditimpahkan beberapa pertanyaan yang agak awkward untuk ditanya.

“Ambon itu mana?”

“Ambon itu Sulawesi bukan sih?”

“Oh, ambon itu di papua kan?”

“Kayaknya ambon itu di sumatera” Jleb! Pertanyaan pertanyaan inilah yang sering ku timpahi dengan pertanyaan balik “Mas mbak dikelas nilai geografinya berapa ya?” Continue reading “Kota Ambon : “Tampa Beta Putus Pusa E””

NOW YOU SEE IT : A BOOK AND A GADGET

A book and a gadget : Nowdays there is a thing that makes me sad, when the men said easily “I do not like reading” O Allah! Why must that sentence bear in this era which have full power and extremely modern?

After analyzing that case i found one cause which is really unfortunately, the thing that why could stuck the young men in this world feel difficult to read –or probably they truly could not read? Is a gadget.

Then, what is exactly gadget mean? From granny’s question to her grandchild. Well, I even couldn’t explain more detail to her about gadget, which to the point is gadget destroys the books. Isn’t?

Continue reading “NOW YOU SEE IT : A BOOK AND A GADGET”

Kicauan Manyar : “Home”

    Diam, suara suara kendaraan bergema satu persatu dari bawah. Angin meniup masuk kejendela bilikku. Cahaya putih bersinar menerangi sebuah buku yg terbuka mantap di atas dipan. Mata ini sigap ke kiri nan gesit dan simak dalam memerhatikan huruf, kata serta kalimat yg tertera diatasnya. Khusyu. Mendadak saja Continue reading “Kicauan Manyar : “Home””

Repost : Demam Fashion Hijrah

[DEMAM FASHION HIJRAH]

Oleh: Sa’adia Meilani

Judul ini sepertinya mewakili resah dihati saya selama beberapa bulan terakhir. Mengamati bagaimana kini seorang perempuan pada umumnya dan muslimah pada khususnya menjadi target kapitalisasi fashion dunia dengan berjuta produknya. Outer, upper, dress, bomber,  hijab, gamis dan lain sebagainya. Coba saja kita lihat, ada berapa ribu online shop di instagram dan semuanya laku, semua memiliki pasar dan pembelinya masing-masing. Mungkin memang jika dilihat, penjualnya adalah seorang muslim. Namun darimana bahan baku permbuatan produk itu datang? Ia diangkut oleh kapal yang berasal dari negeri-negeri fashion yang sudah meraksasa seperti India, China, dan tentu saja Amerika. 
Dalam film “True Cost” (2015) yang disutradarai oleh Andrew Morgan, seorang sutradara dengan fokus produksi film genre telling stories for a better tomorrow. Dari film tersebut jelas nampak bagaimana kapitalisasi fashion bermula dan berkembang hingga era milenial ini. Bagaimana wanita menjadi target operasi industri fashion raksasa dunia. Bahkan menurut artikel yang diterbitkan McKinsey Company (2016) fashion menduduki tujuh ekonomi terbesar dengan index fashion mencapai 2.4 Triliun US Dollar atau setara dengan 32.400 Triliun Rupiah.
Kini jika kita membicarakan tentang fashion muslimah ia menjadi seperti pisau bermata ganda. Satu sisi dapat merobek secara intrinsik konsumen, sisi lain merobek secara ekstrinsik lingkungan si konsumen. Saya mengikuti isu perkembangan fashion sejak saya menduduki bangku SMA, bahkan saya mengaku menjadi korban fashion saat itu. Hijabers Community, sebuah komunitas yang lahir di Jakarta saat itu menjadi inspirasi awal saya dalam berfashion muslimah namun tetap trendy meskipun saat itu saya mengesampingkan nilai “syar’i”. Setelah lulus dari SMA saya tidak begitu tertarik lagi untuk mengikuti gaya hidup seorang stylist atau korban fashion karena memang selain ia mengeluarkan biaya yang besar, ia juga mengikis sudut pandang humanis saya. Seperti mudah berpandangan bahwa penampilan seseorang itu mencerminkan apapun. 
Sudah lima tahun sejak 2012, awal saya mengenal munculnya trend fashion muslimah di Indonesia. Faktanya hingga saat ini ia mewabah dan menjadi life style mayoritas muslimah mulai ibu-ibu hingga anak-anak. Mulai dari hijab yang hanya selembar melilit leher, hingga hijab besar menjuntai. Kini setiap ada fashion store, bazar pakaian menjelang hari raya, dan online shop seluruh website tidak lepas dengan produk penjualan jilbab syar’i. Banyak ibu-ibu yang biasanya keluar rumah tidak berjilbab, saat diundang di acara televisi atas nama majelis taklim mereka kompak senada menggunakan pakaian syar’i. Mulai dari bahan tebal menjuntai, hingga tipis mengiris semua tersedia di lapak fashion muslimah.
Dengan dalil ayat suci yang mereka perjual-belikan sebagai cover daya tarik pembelian busana muslimah, menjadi hal yang lumrah saat ini. Tidak ada yang salah dengan ayat sucinya, namun ada yang salah dengan orientasi dari makna ayat suci tersebut. Seseorang menjadi sangat mudah menilai apa itu “hijrah” hanya dari bagaimana seseorang/sekelompok orang itu merubah gaya berpakaiannya. Hanya dari sisi itu saja. Diiringi oleh menjamurnya kajian-kajian Hijrah anak muda  di beberapa masjid/Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang dipandang menjadi trend anak muda saat ini. Kajian itu tidak lebih dari hanya sekedar memenuhi ke’keren’an timeline si pendengar. Lagi-lagi agar dinilai menjadi sesorang yang telah ber-Hijrah. Didalamnya seringkali minim proses intelektual dalam orientasi kemasyarakatan Indonesia yang majemuk ini. Contohnya, seseorang akan dinilai sholih/sholihah ketika ia sudah mendengarkan tausiyah dari Ust. Hanan Attaki atau Ust. Khalid Bassalamah misalkan. Berhenti disitu anggapan publik.
Belum lagi ditambah aroma-aroma topik hijrah karena “asmara” yang semakin membuat linu telinga. Hijrah untuk menjadi lebih baik, agar mendapat jodoh yang baik pula. Si wanita akan merubah penampilannya dengan berjilbab syari’i bahkan bercadar dengan asumsi agar mendapatkan jodoh yang hafidz, rajin sholat di masjid, berjenggot dan lain sebagianya. Untuk kaum adam maka akan semakin melirik perempuan yang bercadar untuk dinikahi misalnya. Sekali lagi bukan salah kata “hijrah”, namun bagaimana bisa pendeknya pemaknaan seseorang dengan kata tersebut menjadi landasan berfikir mayoritas pemuda muslim saat ini. Padahal hijrah ini sungguh mulia dan berat, ia hanya akan dimengerti maknanya jika ia meninggalkan bagaimana pendapat, penilaian orang lain tentang ‘Dunia’. Hijrah adalah tentang “Bagaimana kita menerapkan seluruh nilai-nilai Islam dalam segala detik dan sendi kehidupan kita”, benar-benar karena Nya. Bukan dengan topeng lillahita’ala.

Lalu, sudah sampai mana hijrah kita?

Malang, 9 Oktober 2017

Repost

ENTAH DISEBUT APA KEHIDUPAN DI ZAMAN SEKARANG INI!

Bismillahirahmanirahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Kita hidup di zaman : Dimana saling mengabaikan satu sama lain agar mendapatkan perhatian orang lain.

Seringkali kita mengadakan pertemuan atau slank anak mudanya “hangout” atau bisa juga reunian -dari reunian kecil kecilan hingga reuni Akbar. Jika dulu diajak kumpul, tempat favorit kita selain taman, warung bakso di alun alun pun menjadi sasaran kita pada dulunya. Berlesahan dan satu per satu menceritakan kehidupannya yg menarik, hingga semua kebagian bercerita. Dan inilah yg kita sebut bersosialisasi, berinteraksi dengan manusia yg ‘asli’ tanpa harus ada alat perantara. 

Namun berbeda dengan sekarang bahkan bukan hanya hangout sepele atau reuni, tapi di acara formal pun hilang lah budaya budaya manusia alamiah yg benar benar di punahkan oleh arusnya zaman. Mereka lebih memilih berinteraksi dengan manusia palsu yg harus melalui perantara yakni smartphone atau gadget.
Kemari lalu, ana sempat bersedih hati ketika mengikuti masa masa, yg dimana kita disuruh berkelompok dengan mahasiswa2 asing yg tidak dikenal. Awalnya ini akan menjadi satu hal yg menarik sebab salah satu tanda kehidupan ialah berjabat tangan dan saling mengucapkan ‘senang berkenalan denganmu’ 

Tapi seperti yg ku bilang ‘pada awalnya’..

Semua malah menyibukkan diri dengan smartphone mereka masing masing.

Mereka lebih memilih ‘hidup’ dengam cara yg super super canggih tapi tak tahu bahwasannya mereka dimatikan. Layaknya hidup bagaikan tanpa jiwa.
Ku pandangi satu per satu legat mata mereka yg sibuk membaca suara manusia yg tersirat. Membayangi wajah manusia dengan sebuah stiker palsu yg nyengir lebar. Hingga tak ada lagi tanda tanda kehidupan disini. Selain kedipan mata dua kali juga jari jari yg sibuk menari nari diatas keypad mereka.

Sedang mereka lupa bahwa ada satu makhluk nan kuno -entah dari mana asalnya atau dia merupakan makhluk reinkarnasi dari tahun 60an- yg berdiri dipojokkan bagaikan orang yg salah masuk planet. 
Hingga ku tahu sekarang ialah, Kita hidup di zaman : Dimana saling mengabaikan satu sama lain agar mendapatkan perhatian orang lain.

Padahal penanda suatu kehidupan ialah bergerak. -bukan bergerak geraknya stiker yg kalian kirim melalui massage- tapi misalnya zigot dibilang hidup ialah ketika bergerak. Sama halnya mamusia, bukan manusia disebut jika ia tak bergerak tapi mayat yg siap di kubur.
Bahkan bukan dari masalah berkomunikasi antar manusia juga ekologi kita pun bermasalah. Ekologi itu ada ketika adanya kupu kupu, capung,  bukan dalam bentuk dimensi yg dipajang di museum.

Jika mas bandung menuliskan essay yg berjudul Buku, Televisi, Selebritas (2008) mengungkapan kritikan pedas dari sastrawan hebat mengenai televisi yg menghadirkan acara acara yg benar benar nikmat bagi para penonton dan menjadi “menu lezat tapi mematikan.”
Lain kasus ini yg mirip mirip dengan ‘televisi’ maka ku sebut ‘smartphone efektif tapi mematikan kehidupan’.

Lucu saja jika kita mampu menghidupkan kehidupan di sebuah dimensi semu yg kita pikir pada awalnya itu lah yg benar benar disebut kehidupan tapi salah besar! Bahkan kita telah memutuskan rantai ukhuwah dalam bersilahturahmi yg nyata. Bukan harus berhiruk piruk dengan tebaran stiker bersenyum palsu. 
Betapa ngeri ketika sadar akan waktu yg terus berjalan, kita pun juga terbawah seretnya pergantian zaman, jika sekarang kita mulai merasakan hilangnya tanda tanda kehidupan lalu bagaimana hari esok nanti?

“Only me maybe smartphone is like my best friend” -no one (Bahkan diartikan ‘seperti’ sebenarnya inilah yg disebut kehidupan?)

Wallahu’alam bil shawab

Ulasan : Missing Ulasan Buku

Semusim, dan semusim lagi

Andina Dwifatma

Bagi seorang imafinatif amatir, ku sebut ini adalah mahakarya. Entah kenapa, usai membaca roman yang bercerita penuh fantasi, imajinasi, serta mistis ini ada sesuatu yang menggelegat dalam hati, dan menjerit jerit tak karuan mungkin karena certianya yang menggantung dan belum pasti menjelaskan kaslian Sobron atau sosok hantu Muara Continue reading “Ulasan : Missing Ulasan Buku”